MoneyParenting

Kamu Harus Pilih untuk Nggak Menggeser Gawang

Bayangkan punya chef pribadi yang masak hidangan level Michelin setiap hari. Kedengarannya seperti mimpi. Di minggu pertama, mungkin bulan pertama, setiap makan malam adalah sebuah acara. Lalu ada sesuatu yang terjadi diam-diam. Makanan itu mulai terasa nggak spesial lagi. Bukan karena chefnya memburuk. Tapi karena yang luar biasa udah jadi biasa. Orang yang duduk di meja itu bukan dapat chef pribadi. Mereka malah kehilangan kemampuan untuk menikmati makanan.

Morgan Housel menyebutnya hedonic treadmill. Yang dulunya hadiah jadi baseline. Yang dulunya baseline jadi minimum yang kamu butuhkan hanya buat ngerasa oke. Bagian yang paling kejam adalah ini terjadi diam-diam, dan terjadi tepat karena keadaanmu sedang baik-baik saja.

Aku ngerasain ini di kamar hotel. Dulu ada masanya ketika menginap singkat di Grand Hyatt terasa seperti sebuah peristiwa nyata. Aku sama istriku bakal ngobrol soal itu berhari-hari sebelumnya. Kami nikmatin sarapan buffetnya dengan santai, mengapresiasi lobi, tidur lebih nyenyak dari yang seharusnya. Sekarang, aku check in ke kamar serupa dan nggak ngerasa apa-apa yang spesial. Hotelnya nggak berubah. Baseline-ku yang berubah. Aku udah terlalu sering upgrade tanpa hati-hati, membiarkan yang luar biasa perlahan jadi ekspektasi, dan tanpa sadar aku udah menghabiskan reservoir apresiasi yang nggak gampang diisi ulang.

Jadi sekarang kami sengaja melakukannya. Restoran bagus tetap jadi sesekali, bukan kebiasaan. Room upgrade terjadi kadang-kadang, bukan otomatis. Bukan karena pelit. Tapi karena menjaga diri sendiri. Frekuensi adalah musuh apresiasi.

Logika yang sama membentuk di mana kami tinggal dan gimana kami bepergian. Kami tinggal di HDB di lingkungan dekat MRT. Kami nggak punya mobil. Anak-anak perempuanku pikir mobil keluarga teman-temannya adalah hal paling menarik di dunia, dan mereka langsung bersemangat setiap kali kami mengunjungi seseorang yang punya kolam renang kondominium. Aku melihat mereka dan berpikir: bagus. Kegirangan itu nyata. Belum tersentuh. Begitu kami beliin mereka kolam renang, itu bakal jadi Selasa biasa. Dan finansialnya juga penting. Kondominium bakal meregangkan satu penghasilan lebih jauh dari yang nyaman dan mendorong mundur cakrawala kebebasan finansial bertahun-tahun. Menjaga gaya hidup yang simpel berarti menjaga gawang di tempat yang kami tancapkan, alih-alih melihatnya bergeser maju sendiri.

Ada pertanyaan yang Housel tanyakan di buku itu yang terus aku kembalikan. Apakah itu rumahnya yang membuatmu bahagia, atau orang-orang di dalamnya? Apakah itu mobilnya, atau sampai di suatu tempat tanpa menghabiskan satu jam dalam kemacetan jam sibuk, diam-diam benci perjalanannya? Apakah itu liburan yang mahal, atau yang satu di mana nggak ada yang cek email kerja selama empat hari dan kalian semua cuma ada bersama tanpa agenda? Uangnya nyata. Tapi apa yang kamu pikir kamu beli dan apa yang sebenarnya kamu beli sering kali adalah dua hal yang sangat berbeda.

Aku nulis ini sebagian buat anak-anakku, Katherine dan Leah, yang akan membaca ini suatu hari ketika mereka cukup dewasa buat berpikir serius soal uang. Aku ingin mereka tau bahwa orang yang butuh kamar bintang lima buat ngerasa apa pun saat liburan nggak lebih kaya dari orang yang ngerasa kesenangan nyata di kamar yang bersih, tenang, dengan pemandangan yang bagus. Salah satunya punya lebih banyak pilihan. Yang lain terjebak oleh ekspektasinya sendiri dan nggak menyadarinya.

Orang dengan chef pribadi itu akhirnya pergi sendiri ke restoran biasa. Memesan sesuatu yang sederhana. Mengambil satu suapan. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun dalam kelimpahan, merasakan sesuatu lagi.

Itulah seluruh pelajarannya. Dan tidak ada biayanya.

Kalau tulisan ini kasih kamu ide baru, sedikit pencerahan, atau sekadar terasa relate, kamu bisa traktir aku kopi virtual di Saweria.

Lumayan buat bantu website ini tetap jalan dan aku bisa terus nulis.

Traktir aku kopi virtual ☕